Di
Magelang terdapat sebuah bukit yang berada di tengah-tengah kota. Bukit itu
sangat terkenal karena menjadi salah satu tempaan para taruna AKABRI. Bahkan
bukit itu menjadi salah satu ciri khas kota itu, namanya bukit Tidar atau yang
lebih di kenal sebagai Gunung Tidar.
Team Media POLICEWATCH mencoba menguak tabir misteri sejarah Gunung Tidar mengumpulkan dan mencari tau sejarah tersebut dari berbagai sumber.kamipun menginap di puncak gunung Tidar semalaman untuk Memastikan besarnya Mistis yang ada. Kamis 26-04-18
![]() |
Team Media Police Watch |
Konon
Gunung Tidar merupakan pusat atau titik tengah Pulau Jawa
Syahdan,
dahulu kala tanah Jawa ini masih berupa hutan belantara yang tidak seorangpun
berani tinggal di sana. Sebagian besar wilayah Jawa ini dahulu masih dikuasai
berbagai makhluk halus. Konon Tanah Jawa yang dikelilingi laut ini bak perahu
yang mudah oleng oleh ombak laut yang besar. Maka melihat itu para dewata
segera mencari cara untuk mengatasinya. Maka berkumpullah para dewa untuk
membahas persoalan Tanah Jawa yang tidak pernah tenang oleh hantaman ombak itu.
Diutuslah sejumlah dewa untuk tugas menenangkan pulau ini. Mereka membawa
sejumlah bala tentara menuju Pulau Jawa sebelah barat. Namun, tiba-tiba Pulau
Jawa kembali oleng dan berat sebelah karena para dewa dan bala tentara hanya
menempati wilayah barat. Agar seimbang, sebagian dikirim ke timur. Namun usaha
ini tetap gagal.
Melihat
kenyataan itu maka para dewa sibuk mencari jalan pemecahan. Setelah beberapa
waktu berembug, maka didapatkanlah sebuah ide cemerlang. Mau tak mau para dewa
harus menciptakan sebuah paku raksasa, dan paku itu akan di tancapkan di pusat
Tanah Jawa, yaitu titik tengah yang dapat menjadikan Pulau Jawa seimbang. Dan
paku raksasa yang di tancapkan itu konon di percaya sebagaian masyarakat
sebagai Gunung Tidar. Dan setelah paku raksasa itu ditancapkan, Pulau Jawa
menjadi tenang dari hantaman ombak. Menurut kepercayaan sebagian
masyarakat Gunung Tidar pada mulanya hanya di tinggali oleh para jin dan setan
yang konon di pimpin oleh salah satu jin bernama Kiai Semar.
Alkisah,
datanglah seorang manusia yang terkenal berani yaitu Syekh Subakhir......
Sesampai
kembali di Tidar, berpasang-pasang manusia yang telah diajak serta oleh Syekh
Bakir tinggal lebih dulu di daerah sebelah timur Gunung Tidar yang sekarang
dikenal sebagai desa Trunan. Konon desa itu berasal dari makna
"turunan", ada yang mengatakan arti dari turunan itu adalah
keturunan, tetapi ada yang menganggapnya sebagai daerah pertama kali
sahabat-sahabat Syekh Bakir di turunkan dan tinggal di tempat itu untuk
sementara waktu. Setelah itu Syekh Bakir berangkat sendiri ke puncak
Gunung Tidar untuk bersemedi. Tombak pusaka sakti Syekh Bakir ditancapkan tepat
di puncak Tidar sebagai penolak bala.
![]() |
Tombak Pusaka Syekh Subakhir(Kyai Sepanjang) |
Dan benar, tombak sakti itu
menciptakan hawa panas yang bukan main bagi Kiai Semar dan wadyabalanya.
Merekapun lari tunggang-langgang meninggalkan Gunung Tidar. Kiai Semar dan
sebagian tentaranya melarikan diri ke timur dan konon hingga sekarang menempati
daerah Gunung Merapi yang masih di percaya sebagian masyarakat sebagai wilayah
yang angker. Bahkan sebagian lagi anak buah Kiai Semar ada yang melarikan
diri ke alas Roban, bahkan ke Gunung Srandil. Tombak itu sekarang masih dijaga
oleh masyarakat dan dimakamkan di puncak Gunung Tidar dengan nama makam Tombak
Kiai Panjang. Dengan adanya tombak sakti itu, maka amanlah Gunung Tidar dari
kekuasaan para jin dan mahluk halus. Syekh Bakirpun akhirnya memboyong
sahabat-sahabatnya untuk membuka tempat tinggal baru Di Gunung Tidar dan
sekitarnya.
![]() |
Makam Syekh Subakhir |
Versi lainnya tentang Syekh
Subakir adalah pada waktu Sultan Muhamad 1 memerintah kerajaan Turki, beliau
menanyakan perkembangan agama islam kepada para pedagang dari Gujarat (India).
Dari mereka Sultan mendapat kabar berita bahwa di Pulau Jawa ada Dua kerajaan
Hindu yaitu Majapahit dan Pajajaran. Di antara rakyatnya ada yang beragama
islam tapi hanya terbatas pada keluarga pedagang Gujarat yang kawin dengan
penduduk pribumi yaitu di kota-kota pelabuhan.
Sang Sultan kemudian mengirim
surat kepada para pembesar islam di Afrika Utara dan Timur Tengah. Isinya meminta
para ulama yang mempunyai karomah untuk dikirik ke Pulau Jawa. Maka
terkumpullah sembilan ulama berilmu tinggi serta mempunyai karomah.
Pada tahun 808 Hijrah atau 1404
Masehi para ulama itu berangkat ke Pulau Jawa. Diantara para ulama yang berilmu
tinggi itu ada yang bernama Syekh Subakhir, ia dikenal sebagai pakar rukyah
(penakluk dan pengusir jin yang yang menganggu manusia). Sumber cerita
ini menyebutkan bahwa Pulau Jawa pada waktu itu sangat angker. Pulau Jawa
dihuni oleh bangsa mahluk halus berupa dedemit, jin-jin, periprayangan,
bekasaan, kemangmang, banaspati, genderuwo, jangkitan, kuntilanak dan masih
banyak lagi sejenisnya. Dan telah diceritakan pula, bahwa sang Sultan Rum (teks
asli ngerum) sekarang Turki, telah mengetahuinya dan mendapat bisikan (ilham)
dari Tuhan, mendapat perintah untuk mengisi pulau itu dengan manusia. Setelah
itu sang Sultan memanggil Patihnya, maka datanglah Sang Mahapatih di
hadapannya, baginda Sultan berkata"Hai Patih ...! Aku akan bertanya padamu
yang sesungguhnya. Apakah benar berita tentang Pulau Jawa itu, apa kamu sudah
tahu?"Katanya masi sepi dan belum ada manusianya, pulau itu masih hutan
belantara?" "Benar sekali tuanku, sungguh belum ada manusianya,
beritanya para nakoda yang sering mengarungi samudera berlayar ke sumbawa
melewati Pulau Jawa itu tuanku, pulau itu membujur dari barat ke timur terletak
di sebelah baratnya pulau Bali dan banyak terdapat Gunung. menurut "jawab
Sang Patih. Baginda Sultan berkata dengan pelan: ''Hai Patih! Kamu bawalag dua
leksa orang kepala keluarga, cepat tempatkan di tanah Jawa agar mereka bertani
dan perbekali dengan alat-alat pertanian!".
Demikianlah sang Mahapatih segera
mencari orang-orang pilihan dan bergegas mempersiapkan perlengkapannya. Setelah
membayar ongkos pelayaran dan telah siaga, dengan mengendarai perahu lantas
berangkatlah sang patih bersama 40.000 orang dengan cepat. Rum atau Turki
adalah wilayah Eropa bagian timur, tak terkirakan berapa jauh perjalanan yang
di tempuh menuju Pulau Jawa. Berbagai hambatan dan rintangan mereka lalui
hingga akhirnya sampai di Pulau Jawa. 40.000 orang yang terdiri dari
20.000 pasangan suami istri itu di tempatkan di Pulau Jawa. Sementara Sang
Mahapatih kembali pulang ke negeri Rum. Namun apa yang terjadi? 40.000 orang
itu ternyata banyak yang mati, konon karena di teluh atau dimakan oleh segala
lembut atau makhluk halus. yang tersisa hanya 40 orang. Mereka akhirnya
meninggalkan Pulau Jawa, berlayar kembali ke negeri Rum. Setelah sampai di
negeri Rum, mereka di hadapkan kepada Baginda Sultan. Dan melaporkan sendiri
kejadian yang menimpa rekan-rekannya "Kami banyak yang mati dimakan
dedemit, jin dan bangsa sejenisnya". Sang Sultan kemudian memanggil
seorang ulama besar yang dikenal sebagai ahli rukyah dan ahli ekologi
lingkungan, namanya Syekh Subakhir yang memiliki gelar Syekh Maulana. Ulama ini
sangat di segani dan di hormati oleh rakyat, bahkan Baginda Sultan sendiri
menaruh hormat kepadanya. Setelah Syekh Subakhir datang menghadap maka
berkatalah sang Baginda Sultan, "Wahai Tuan Syekh Maulana...saya sudah
memberi tugas kepada Patih tapi telah gagal. Sekarang Tuanlah yang saya tunjuk,
pergilah ke Pulau Jawa yang terkenal angker itu. Pasanglah tumbal, tempatkan di
gunung yang terletak di tengah-tengah Pulau Jawa supaya bangsa halus yang memakan
manusia itu pergi. Dan bawalah orang Keling agar mereka menetap tinggal di
Pulau Jawa. Jangan lupa lengkapi mereka dengan persenjataan".
Sang Mahapatih mendapat titah
untuk mempersiapkan segala keperluan perjalanan Syekh Subakhir ke Pulau Jawa.
Dalam pelayaran itu, Syekh Subakhir singgah di tanah Hindustan (India). Di sana
ia mengambil 20.000 orang Keling, lalu meneruskan perjalanan ke Pulau Jawa.
Rombongan Syekh Subakhir datang ke Pulau Jawa, sebagai orang yang waskita ia
tahu bahwa pusat segala bangsa lelembut adalah di gunung Tidar, maka ia
langsung menuju ke gunung paling angker itu. Dengan membawa batu hitam yang
sudah di rukyah ia mengelilingi gunung itu. Batu di pasang merata disegala
penjuru, kegiatan ini oleh orang Jawa dinamakan memberi tumbal atau menumbal
tanah. Pengaruh kekuatan tumbal itu demikian dahsyat, dalam tempo yang tidak
begitu lama terjadilah keributan besar, situasi alam berubah total, cuaca yang
tadinya cerah, berubah menjadi gelap, angin yang tadinya berhembus pelan dan
sejuk berubah menjadi kencang, gemlegar suara halilintar, hujan api, gemuruh
suara gunung dahsyat sekali, api bertebaran ke mana-mana.
Sekitar tiga hari tiga malam
peristiwa dahsyat yang menggemparkan itu berlangsung. Bangsa lelembut
setan-setan dan siluman lari menyelamatkan diri karena kepanasan oleh daya
ghaib rukyah Syekh Subakhir. Banaspati hanyut mengikuti arus air, ilulu
jangkitan lari tunggang-langgang. Jin, periprayangan, mengungsi di lautan,
bekasan, kemang-mang, banaspati, genderuwo, jangkitan, kuntilanak hanyut semua
hanyut dalam air karena tak kuat menahan panas. Setelah peristiwa menggemparkan
itu alam menjadi tenang kembali sunyi senyap, pengap dan gelap gulita meliputi
cuaca langit Pulau Jawa, cahaya matahari tak tembus seakan matahari berhenti bersinar.
Alkisah ada dua dahyang di Tanah
Jawa, keduanya sesepuhnya jaman di Tanah Jawa, yang mengemban pula Jawa, Sang
Hyang Semar sebutannya, dan satunya lagi Sang Hyang Tagog. Dahnyang itu
berkedudukan di gunung, kaki gunung sebagai padepokannya. Dan telah lama sekali
tingal disitu. Demikian itu yang telah di sebutkan, entah kemana sang Tagog
waktu kejadian itu, hingga Sang Semar berkata: "Kakang Tagog di mana
engkau? Telah terjadi keributan, kejadian hujan api menghujani bumi menjadikan
penghuninya porak-poranda dan menjadikan berkurang dan terpisah-pisah. Bumi
bergelimpangan mayat tersambar petir, kilat menyambuk angkasa dan membakar bumi
dengan jilatannya, suara guntur menggelegar di angkasa, gemuruh suara gunung
yang bergetar!" Entah dari mana datangnya suara tiba-tiba sang Tagog
menjawab: "aku disini, aku tak tahu penyebabnya, bukankah kamu lebih
tahu?!" Sang Semar memberikan kabar padanya : "jika engkau tidak
tahu, yaitu ada utusan dari Rum datang ke tanah Jawa membuat rusaknya demit, tumbalnya
di pasang merata di gunung, mari kita kesana menjumpai sang resi utusan itu!
Dia di perintah Sang Sultan untuk menenung semua demit, aku akan menuntut pada
pendeta Rum itu, tentang banyak Bekasaan yang hanyut serta hiruk-pikuk buyarnya
semua lelembut".
Sang Hyang Tagog
mencegahnya;"Hai adik jangan dijumpai!" Ternyata keduanya berangkat
juga untuk menemui sang resi dari Rum itu, diperjalanan tidak di ceritakan,
setelah sampai di hadapan Syekh Subakhir yang berada di gunung Tidar, dia
berkata "Tuan Subakir, sebagai pendeta kenapa tuan datang kesini membuat
kerusakan?" Syekh Subakir dengan perlahan berkata: "Kisanak......kau
ini siapa? keluar dari mana Kisanak berdua? baru kali ini aku melihatmu? lantas
apa yang kisanak inginkan sampai datang kepadaku?" . Sang Hyang Semar
perlahan juga menjawab: "ya saya ini orang Jawa, saya ingin bertemu
tuan". Syekh Subakhir berkata: "Beritanya Tanah Jawa tempat yang
belum ada manusianya, tempat yang masih hutan belantara". Sang Semar
langsung menyangkalnya: "Nyatanya saya orang Jawa, saya ada sebelum tuan
datang, kami menduduki dan menetap di puncak-puncak gunung sudah mencapai 9000
tahun dan kami berada di gunung Tidar selama 1.001 tahun". Sang pendeta
heran mendengarnya, "Hai kamu ini bangsa apa? apakah kamu ini sungguh-sungguh
manusia? umurmu panjangnya bukaan main, sedangkan saya belum pernah tahu orang
yang umurnya mencapai 1000 tahun. umurmu lebih panjang dari Nabi Adam AS, hai
kisanak! mengakulah! berterus teranglah padaku, rupanya kamu bukan manusia
hingga umurmu melebihi umur Nabi Adam, umurmu sangat panjang, jika kamu manusia
tak ada manusia yang umurnya mencapai 1000 tahun.
Sang Semar berkata:
"Sesungguhnya saya ini bukan manusia, sayalah Dahnyang Tanah Jawa yang
paling tua, putranya Dewi-dewi, yang di sebut Manik Maya ya saya ini, sang
Hyang Syist ya saya ini, Dahnyang Teritoti ya saya ini, Rekannya ya saya, Sang
Hyang Ening itu namaku, sedangkan Jaya Kusuma itu Rajaku, serta Ki Joko Pendek
Angtek-angtek Kucing Gati ya sayalah yang di sebut Sang Hyang Semar. Saya
kesini sudah lama sekali dari ibu Hawa melahirkan benihnya dan di ambil
(diadopsi) serta di rawat oleh sang Idajil, benih itu tak berbentuk dan di
cipta dibentuknya sedemikian rupa dan dicampur dengan maninya, maka jadilah
hamba ini. Jika tuan belum tahu, ya ini wujudnya badan hamba, seluruh dahnyang
semua keturunan hamba, maka dahnyang itu ada di seberang Tanah Jawa, jin
prahyangan dan peri serta kebanyakan lelembut ya turun saya, semua menguasai
tempat-tempat yang winggit (angker), Ilulu Jangkitan buyut saya, sedangkan Ki
Rogo titisannya burung Senhari.
Hamba bersama dengan saudara tua
hamba bertempat di Tanah Jawa, maka hamba kesini untuk bertemu dengan paduka
tuan ingin tanya yang sesungguhnya, mengapa tuan sebagai sang pendeta membuat
kerusakan semua anak cucu hamba? mereka semua hanyut di sungai sampai kelautan,
terkapar kena tenung, ternyata kamu yang membunuhnya! sisanya kebanyakan para
lelembut mengungsi ke lautan". Sang pendeta perlahan berkata: "Hai
kisanak aku ini di utus kanjeng sultan Rum Rajaku, maka aku disuruh mengisi
manusia di pulau Jawa, supaya berladang, bersawah membuka hutan belantara, yang
ku tempatkan ini orang dari negeri Rum banyaknya 2000 orang berkeluarga, itu
sudah kehendak Tuhan, tidak bisa jika menghalanginya". Sang Hyang Semar perlahan
berkata: "Sukurlah jika itu kehendak Sultan dari Rum, sri Raja sendiri
yang menyatakan mengisi manusia di Tanah Jawa, menyuruh membuka hutan, karena
baginda sendiri juga turun saya, semua itu terjadi pada Taqdir Tanah Jawa.
"
Selanjutnya Syekh Subakir membeberkan
ramalan tentang kejadian di masa yang akan datang mengenai Raja-raja penguasa
Tanah Jawa hingga nanti saat tengelamnya Pulau Jawa. Mengapa Pulau Jawa
tenggelam? Konon hal ini untuk menyelamatkan ummat Islam di Pulau Jawa, karena
Dajjal nantinya mampu menghidupkan orang mati dan menjadikan orang tersebut
kafir. Jika Pulau Jawa di tenggelamkan sang Dajjal yang hanya punya mata
sebelah itu tidak akan mampu melihat penghuni Pulau Jawa, karena Pulau Jawa
sudah rata dengan lautan. Mengenai ramalan Raja-raja Pulau Jawa dan situasi
penduduk Pulau Jawa yang di sampaikan Syekh Subakir Hampir sama dengan Ramalan
Jayabaya yang sesungguhnya di tulis oleh Sunan Giri.
Kisah Perjanjian antara
Sabdopalon dengan Syeh Subakir
Konon ada
semacam perjanjian antara Sabdopalon sebagai Pamomong (Danyang Gaib) Tanah Jawa
dengan Syeh Subakir sebagai penyebar Agama Islam generasi awal di Jawa ini.
Tersebutlah kisah tersebut dalam tulisan lontar kuno. Lontar tersebut
diperkirakan ditulis oleh Kanjeng Sunan Drajad atau setidak – tidaknya oleh
murid atau pengikut beliau.
Cerita
tentang kisah ini pernah dipentaskan sebagai lakon wayang kulit bergenre wayang
songsong (wayang kulit yang berisi cerita hikayat dan legenda Jawa) yang
digelar di Desa Drajad, Paciran, Lamongan ( sebuah desa tempat situs Sunan
Drajad ).
Kisah
diawali dengan adanya persidangan di Istana Kesultanan Turki Utsmania di
Istambul yang dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad I. Persidangan kali ini
membahas mimpi Sang Sultan. Menurut Sultan Muhammad, beliu bermimpi mendapat
perintah untuk menyebarkan dakwah islamiah ke Tanah Jawa. Adapun mubalighnya
haruslah berjumlah sembilan orang. Jika ada yang pulang atau wafat maka akan
digantikan oleh ulama lain asal tetap berjumlah sembilan.
Maka
dikumpulkanlah beberapa ulama terkemuka dari seluruh dunia Islam waktu itu.
Para ulama yang dikumpulkan tersebut mempunyai spesifikasi keahlian
masing-masing. Ada yang ahli tata negara, ahli perubatan, ahli tumbal, dll.
Titah dari Baginda Sultan Muhammad kepada mereka adalah perintah untuk
mendatangi Tanah Jawa dengan tugas khusus yaitu penyebaran Agama Islam.
Dibawah ini
adalah dialog antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir yang terjadi di atas Gunung
Tidar. Syeh Subakir adalah salah satu ulama yang diutus Sultan Muhammad untuk
menyebarkan Islam di Tanah Jawa ini. Adapun keahlian Syeh Subakir adalah dalam
bidang membuat danmemasang tumbal. Dialog yang penulis turunkan ini adalah
dialog versi imaginer yang penulis olah dari hikayat tersebut dengan bahasa
penulis sendiri.
Syeh Subakir : Kisanak, siapakah kisanak ini,
tolong jelaskan.
Sabdopalon : Aku ini Sabdopalon, pamomong
(penggembala) Tanah Jawa sejak jaman dahulu kala. Bahkan sejak jaman kadewatan
(para dewa) akulah pamomong para kesatria leluhur. Dulu aku dikenali sebagai
Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu dikenal sebagai Ki Lurah Semar Bodronoyo dan
sekarang jaman Majapahit ini namaku dikenal sebagai Sabdopalon.
Syeh Subakir : Oh, berarti Kisanak ini adalah
Danyang (Penguasa) Tanah Jawa ini. Perkenalkan Kisanak, namaku adalah Syeh
Subakir berasal dari Tanah Syam Persia.
Sabdopalon : Ada hajad apa gerangan Jengandiko
(Anda) rawuh (datang) di Tanah Jawa ini ?
Syeh Subakir : Saya diutus oleh Sultan Muhammad
yang bertahta di Negeri Istambul untuk datang ke Tanah Jawa ini. Saya tiadalah
datang sendiri. Kami datang dengan beberapa kawan yang sama-sama diutus oleh
Baginda Sultan.
Sabdopalon : Ceritakanlah selengkapnya
Kisanak. Supaya aku tahu duduk permasalahannya.
Syeh Subakir : Baiklah. Pada suatu malam Baginda
Sultan Muhammad bermimpi menerima wisik (ilham). Wisik dari Hyang Akaryo Jagad,
Gusti Allah Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Luhur. Diperintahkan untuk mengutus
beberapa orang ‘alim ke Tanah Jawa ini. Yang dimaksud orang ‘alim ini adalah
sebangsa pendita, brahmana dan resi di Tanah Hindu. Pada bahasa kami disebut
‘Ulama.
Sabdopalon : Jadi Jengandiko ini termasuk
ngulama itu tadi ?
Syeh Subakir : Ya, saya salah satu dari utusan
yang dikirim Baginda Sultan. Adapun tujuan kami dikirim kemari adalah untuk
menyebarkan wewarah suci (ajaran suci), amedar agama suci. Yaitu Islam.
Sabdopalon : Bukankah Kisanak tahu bahwa di
Tanah Jawa ini sudah ada agama yang berkembang yaitu Hindu dan BudHa yang
berasal dari Tanah Hindu ? Buat apa lagi Kisanak menambah dengan agama yang
baru lagi ?
Syeh Subakir : Biarkan kawulo dasih (rakyat)
yang memilih keyakinannya sendiri. Bukankah Kisanak sendiri sebagai Danyangnya
Tanah Jawa lebih paham bahwa sebelum agama Hindu dan Budha masuk ke Jawa ini,
disinipun sudah ada kapitayan (kepercayaan) ? Kapitayan atau ‘ajaran’ asli Tanah
Jawa yang berupa ajaran Budhi ?
Sabdopalon : Ya, rupanya Kisanak sudah
menyelidiki kawulo Jowo disini. Memang disini sejak jaman sebelum ada agama
Hindu dan Budha, sudah ada ‘kapitayan’ asli. Kapitayan adalah kepercayaan yang
hidup dan berkembang pada anak cucu di Nusantara ini.
Syeh Subakir : Jika berkenan, tolong ceritakan
bagaimana kapitayan yang ada di Tanah Jawa ini.
Sabdopalon : Secara ringkas Kepercayaan Jawa
begini. Manusia Jawa sejak dari jaman para leluhur dahulu kala meyakini ada
Sang Maha Kuasa yang bersifat ‘tan keno kinoyo ngopo’, tidak bisa digambarkan
bagaimana keadaannya. Dialah pencipta segala-galanya. Bawono Agung dan Bawono
Alit. Jagad besar dan jagad kecil. Alam semesta dan ‘alam manusia’. Wong Jowo
meyakini bahwa Dia Yang Maha Kuasa ini dekat. Juga dekat dengan manusia. Dia
juga diyakini berperilaku sangat welas asih.
Dia juga
diyakini meliputi segala sesuatu yang ada. Karena itu masyarakat Jawa sangat
menghormati alam sekelilingnya. Karena bagi mereka semuanya mempunyai sukma.
Sukma ini adalah sebagai ‘wakil’ dari Dia Yang Maha Kuasa itu.
Jika
masyarakat Jawa melakukan pemujaan kepada Sang Pencipta, mereka lambangkan
dengan tempat yang suwung. Suwung itu kosong namun sejatinya bukan kosong namun
berisi SANG MAHA ADA. Karena itu tempat pemujaan orang Jawa disebut Sanggar
Pamujan. Di salah satu bagiannya dibuatlah sentong kosong (tempat atau kamar
kosong) untuk arah pemujaan. Karena diyakini bahwa dimana ada tempat suwung
disitu ada Yang Maha Berkuasa.
Syeh Subakir : Nah itulah juga yang menjadi
ajaran agama yang kami bawa. Untuk memberi ageman (pegangan atau pakaian) yang
menegaskan itu semua. Bahwa sejatinya dibalik semua yang maujud ini ada Sang
Wujud Tunggal yang menjadi Pencipta, Pengatur dan Pengayom alam semesta. Wujud
tunggal ini dalam bahasa Arab disebut Al Ahad. Dia maha dekat kepada manusia,
bahkan lebih dekat Dia daripada urat leher manusianya sendiri. Ajaran agama
kami menekankan budi pekerti yang agung yaitu menebarkan welas asih kepada alam
gumebyar, kepada sesama sesama titah atau makhluk.
Lihatlah
Sang Danyang, betapa sudah rusaknya tatanan masyarakat Majapahit sekarang.
Bekas-bekas perang saudara masih membara. Rakyat kelaparan. Perampokan dan
penindasan ada dimana-mana. Ini harus diperbaharui budi pekertinya.
Sabdopalon : Aku juga sedih sebenarnya
memikirkan rakyatku. Tatanan sudah bubrah. Para pejabat negara sudah lupa akan
dharmanya. Mereka salin sikut untuk merebutkan jabatan dan kemewahan duniawi.
Para pandito juga sudah tak mampu berbuat banyak. Orang kecil salang tunjang
(bersusah payah) mencari pegangan. Jaman benar-benar jaman edan.
Syeh Subakir : Karena itulah mungkin Sang Maha
Jawata Agung menyuruh Sultan Muhammad Turki untuk mengutus kami ke sini. Jadi,
wahai Sang Danyang Tanah Jawa, ijinkanlah kami menebarkan wewarah suci ini di
wewengkon (wilayah) kekuasaanmu ini.
Sabdopalon : Baiklah jika begitu. Tapi dengan
syarat -syarat yang harus kalian patuhi.
Syeh Subakir : Apa syaratnya itu wahai Sang
Danyang Tanah Jawa ?
Sabdopalon : Pertama, Jangan ada pemaksaan
agama, dharma atau kepercayaan. Kedua, Jika hendak membuat bangunan tempat
pemujaan atau ngibadah, buatlah yang wangun (bangunan) luarnya nampak cakrak
(gaya) Hindu Jawa walau isi dalamannya Islam. Ketiga, jika mendirikan kerajaan
Islam maka Ratu yang pertama harus dari anak campuran. Maksud campuran adalah
jika bapaknya Hindu maka ibunya Islam. Jika bapaknya Islam maka ibunya harus
Hindu. Keempat, jangan jadikan Wong Jowo berubah menjadi orang Arab atau Parsi.
Biarkan mereka tetap menjadi orang Jawa dengan kebudayaan Jawa walau agamanya
Islam. Karena agama setahu saya adalah dharma, yaitu lelaku hidup atau budi
pekerti. Hati-hati jika sampai Orang Jawa hilang Jawanya, hilang
kepribadiannya, hilang budi pekertinya yang adiluhung maka aku akan datang
lagi. Ingat itu. Lima ratus tahun lagi jika syarat – syarat ini kau abaikan aku
akan muncul membuat goro-goro.
Syeh Subakir : Baiklah. Syarat pertama sampai
keempat aku setujui. Namun khusus syarat keempat, betapapun aku dengan
kawan-kawan akan tetap menghormati dan melestarikan budaya Jawa yang adiluhung
ini. Namun jika suatu saat kelak karena perkembangan jaman dan ada perubahan
maka tentu itu bukan dalam kuasaku lagi. Biarlah Gusti Kang Akaryo Jagad yang
menentukannya.
Memang susah
untuk mengetahui keadaan, asal usul atau gambaran kondisi sebuah masyarakat nun
jauh ke masa lalu. Semakin jauh masa itu, semakin gelap gambarannya. Namun,
upaya-upaya ahli sejarah dan lainnya untuk menguaknya patut dihargai. Paling
tidak ada sedikit gambaran yang mungkin bisa kita lihat, meski tidak sepenuhnya
benar seratus persen.
Beberapa
naskah yang beredar mencoba menggambarkan hal itu. Seperti dalam Serat Jangka
Syeh Subakir.
“Sampun
sangang ewu warsa, inggih wonten pulo ngriki, dedukuh ing hardi Tidar, saweg
antuk sewu warsi, langkung taun puniki, Syech Bakir gawok angrungu, dika niku
wong napa, napa ta ayekti janmi, umur dika dene ta kaliwat-liwat”
Yang artinya
antara lain :
“Sudah 9000
tahun, ya (saya Semar) sudah ada di pulau ini (Jawa), di pedusunan di Gunung
Tidar, tapi baru 1000 tahun berjalan, di sini, Syech Subakir heran
mendengarnya, engkau ini makhluk apa, apa benar manusia? Kok usianya luar
biasa?”
Demikian
perkenalan Semar dengan Syech Subakir. Selama ribuan tahun itu Semar bertapa di
Gunung Merbabu dan tidak mengetahui keadaan manusia di Jawa. Gambaran tentang
kondisi Pulau Jawa juga digambarkan dalam Serat tersebut penuh dihuni oleh
demit, jin, gendruwo bekasaan dan sejenisnya. Bahkan beberapa utusan dari
negeri Rum sebelum Syeh Subakir dimakan demit (Binadog demit). Dari serat ini,
ditegaskan bahwa Raja Rum mendapat petunjuk untuk mengisi pulau Jawa : “jeng
Sultan Rum kang winarni, angsal sasmitaning Sukma, dinawuhan angiseni, manungsa
pilo Jawi,…”
Syeh subakir
mengambil orang-orang Keling (?) untuk dibawa mengisi pulau Jawa, sebanyak 2
laksa (20000) keluarga. Dari serat ini, maka yang mengisi (menjadi penghuni P.
Jawa) adalah dari bangsa Keling yang dibawa oleh Syeh Subakir. Padahal dalam
naskah itu pula, Semar adalah manusia.
“Sang Hyang
Semar lon wuwusnya, gih sumangga karsa Aji, sajatine gih kawula, lan kiraka
tiyang Jawi, ing kina prapteng mangkin, kawak daplak inggih ulun, wong Jawa
kuna mula, saderenga dika prapti, kula manggen Marbabu pucak haldaka”.
Namun,
selama bertapa ribuan tahun itu pula pulau Jawa sudah berubah isinya, bukan
manusia seperti Semar, tetapi sudah dikuasai oleh para demit.
Dalam SERAT
JANGKA TANAH JAWI gambarannya tidak beda jauh dengan serat Jangak Syeh Subakir,
yaitu pertemuan antara Semar dengan Syeh Subakir ketika memberi tumbal
(mengusir) para dedemit yang menguasai tanah Jawa. Dalam serat ini ada dialog
yang sebenarnya adalah bantahan anggapan bahwa tanah Jawa belum dihuni oleh
manusia, hanya oleh bangsa jin dan demit.
“Syekh
Bakir lon angandika, sayrkti ing tanah Jawi, pan durung ana manungsa, pan isih
rupa wanadri, Hyang Semar matur aris, kawula sajatosipun, ing kina makina,
saderenging tuwan prapti, hamba kalih dhedhukuh Rebabu arga”
Artinya :
Syeh Subakir
berkata, sebenarnya di tanah Jawa, belum ada manusia, masih berupa hutan. Hyang
Semar menjawab dengan lembut, hamba ini sebenarnya, di masa lalu, sebelum
kedatangan tuan, hamba berdua (Semar dan Togog) ini penghuni Jawa yang
bertempat di gunung Merbabu”.
Namun, dalam
serat ini Semar sendiri menjelaskan bahwa dia bukan manusia, tetapi keturunan
dewa, Sang Yang Tunggal atau Manikmaya. Agak sedikit berbeda memang dengan
serat Jangka Syeh Subakir. Namun pada intinya bahwa Semar dan Togog di masa
lalu adalah penghuni pulau Jawa. Apakah hanya mereka berdua? Tentu ini bisa
disinkronkan dengan sumber-sumber lain misalnya Babad Demak Pesisiran yang
menerangkan silsilah orang tua Syang Hyang Tunggal adalah Sang Yang Wenang,
putra dari Sang Yang Wening, putra dari Sang Yang Nurasa, putra dari Sang Yang
Nurcahyo atau Sayid Anwar, putra dari Nabi Sis. (dalam versi lain, Sang Yang
Wening dan Wenang adalah satu pribadi). Dalam Serat Jangka Tanah Jawi, Semar
adalah keturunan dari Nabi Sis (jika digabungkan Babad Demak Pesisiran, karena
anak dari Sang Yang Tunggal). Namun, dalam Babad Demak Pesisiran, nama Semar
tidak muncul sebagai anak Sang Yang Tunggal. Di sinilah letak gelapnya lagi,
Semar di satu sisi mengaku anak Sang Yang Tunggal, namun dalam babad Demak
Pesisiran, tidak masuk. Demikian pula dalam Babad Tanah Jawa, Semar dan Togog
itu menjadi “penderek” Raden Palasara yang merupakan keturunan dari Sayid
Anwar. Dalam babad Tanah Jawa, Palasara merupakan cikal bakal leluhur Jawa,
dimana kemudian, Kurawa, Pandawa adalah bagian dari keturunannya (ini menjadi
terbalik, bahwa kisah mahabarata itu mulanya dari Jawa).
Dalam serat
Babad Demak Pesisiran, Nabi Ibrahim itu berbeda dengan Bathara Brhama. Nabi
Ibrahim berada pada garis silsilah Sayid Anwas (saudara Sayid Anwar). Batara
Brahma adalah keturunan dari Sayid Anwar.
Masa-masa
gelap ini memang memunculkan banyak versi mengenai leluhur Jawa. Buku lain,
yaitu SEJARAH KAWITANE WONG JAWA LAN WONG KANUNG menggambarkan : pertama jaman
jamajuja (puluhan ribu- buku ini ditulis pada tahun 1931) sudah ada manusia,
tetapi masih bertelanjang, seperti kera, hidupnya di gua-gua. Masih dalam masa
jamajuja periode 5000 tahun (sebelumnya) manusianya sudah mengalami kemajuan,
sudah memakai cawet dari dedaunan, sudah menempati di luar gua. Mereka sudah
berkumpul dalam sebuah komunitas. Masyarakat ini disebut dengan masyarakat Lingga
(Suku Lingga). Masa kuna (sebelum masehi), orang-orang Sampit berhijrah ke Nusa
Kendheng yang kemudian disebut sebagai orang Jawa. Kata Jawa sendiri dirujukkan
pada sebutan Bantheng yang “gemati” penuh perhatian terhadap anaknya. Sebab
bantheng perempuan disebut Jawi, yang “gemati” kemudian disebut Jawa.
Orang-orang Sampit yang mengungsi ke Jawa ini kemudian membuat pertanda awal
sebagai orang Jawa, yaitu 230 tahun sebelum masehi (bukan saka). Tahun itu
disebut tahun Hwuning (pengingat). Tokoh pimpinan rombongan eksodus ini namanya
Khi Seng Dhang, yang kelak kemudian disebut Dhang Hyang (Danyang). Mereka
berasal dari Sampit yang keturunan dari suku Hainan. Dari catatan ini, maka
orang Jawa (dalam pengertian) pendatang baru yang “gemati”, mau menghormati orang
Lingga adalah 230 SM. Namun penduduk Jawa asli, Suku Lingga kemudian bercampur
dan kelak memenuhi Jawa.
Dengan
demikian, mulainya peradaban Jawa itu 230SM, karena adanya kebudayaan Hainan
yang dibawa, sementara suku Lingga yang masih tertinggal, hidup di gua, hutan
dan bergantung pada alam, belum disebut sebagai orang Jawa. Ini tentu berbeda
dengan versi Serat Jangka Syeh Subakir dan Serat Jangka Tanah Jawi. Jika kita
lihat kedatangan Syeh Subakir di tanah Jawa dari sumber lain, sekitar tahun
1404. Jika berasumsi bahwa sebelum tahun itu tanah Jawa tak ada manusianya,
maka akan muncul banyak persoalan, bagaimana dengan kerajaan Singasari, Kediri
dan lainnya yang sebelumnya ada? Tentu membaca SERAT JANGKA SYEH SUBAKIR dan
SERAT JANGKA TANAH JAWI ini tidak bisa seleterlek ini. Mungkin butuh analisis
simbol, semiotik, hermeneutik dan lain sebagainya agar mendapat pemahaman yang
lebih luas. Sebab SERAT JANGKA itu pesan besarnya adalah mengenai “prediksi”
masa depan Jawa dalam periodisasi tertentu, bukan membahas asal usul bangsa
Jawa.
So, masih
terbuka lebar untuk penelitian yang lebih jauh dan mendalam siapa sebenarnya
leluhur orang Jawa di masa lampau sekali. Tentu tidak akan ditemukan jawaban
tunggal, sebab sebuah masyarakat terdiri dari berbagai unsur, keluarga dan
sebagainya, maka akan dimungkinkan banyak versi.
Kembali
lagi, bahwa kata Jawa itu bisa diartikan “gemati”, perhatian, menghargai,
menyayangi. Jadi siapapun mereka bisa melakukan itu semua di pulau Jawa ini,
akan menjadi leluhur Jawa, entah dia dari belahan dunia manapun.*Team MPW*